"Kapan pun ada pekerjaan berat, saya tugasi seorang pemalas untuk melakukannya. Sebab dia pasti akan mencari cara termudah untuk menyelesaikannya." Walter Chrysler, pendiri Chrysler Corp
Banner


Kok bisa ya kerja di luar negeri..? Gimana caranya yaa..?

Menjadi tenaga kerja asing pada sektor formal di negara orang, bukan lagi hal aneh bagi warga negara Indonesia. Namun, banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan bekerja di luar negeri.Selain tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor informal seperti pembantu rumah tangga dan kuli kebun sawit atau kuli proyek bangunan, ternyata pekerja formal juga mulai merambah luar negeri. Berikut contoh-contoh pekerja yang sudah berhasil mendapatkan pekerjaan di Singapura. Yuk kita lihat kok bisa ya mereka bisa dapat kerja di sana..?

Seperti Sisca Herdiana, 29 tahun, yang bekerja sebagai akuntan senior di perusahaan akuntan publik di Singapura. Pekerjaan alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini sudah dijalaninya selama dua tahun. Ia mengatakan awalnya ia melamar ke perusahaan yang beriklan di situs jobsdb, com. Perusahaan tersebut mencari foreign talent di Indonesia. Selang beberapa pekan, ia dipanggil untuk tes kerja oleh pemimpinnya langsung dan diterima.

Semua urusan perizinan kerja diurus oleh perusahaannya. Ministry of Manpower atau Kementerian Tenaga Kerja di Singapura kemudian mengeluarkan izin kerja untuknya berstatus Employment Pass dengan penghasilan di atas 2.500 doUar Singapura.

"Akuntan publik sangat dibutuhkan di sana, sedangkan banyak lulusan dalam negeri mereka enggan bekerja di sana dan memilih bekerja di luar negeri. Akibatnya perusahaan di sana mencari pekerja dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina," jelasnya.

Sisca beralasan bekerja di luar negeri karena ingin menambah pengalaman. Baru alasan kedua adalah ingin mendapatkan penghasilan dalam dollar. Alasan terakhir ingin memperlancar bahasa Inggris. Kerja di sana lebih efisien, efektif, dan sangat disiplin. Ketika dirinya meminta dokumen ke sebuah perusahaan yang akan diaudit, hari itu juga langsung dikirim. Ia membandingkan sewaktu bekerja di Jakarta mengaudit sebuah BUMN
yang memakan waktu sepekan untuk mendatangkan dokumen.

Ketepatan waktu orang tiba di kantor juga karena didukung transportasi yang bagus. Waktu tempuh dari tempat tinggalnya ke kantor hanya 20 menit. "Itu termasuk waktu saat menunggu bus dan jalan kaki ke kantor," ungkapnya.
Pengalaman bekerja di Singapura juga dijalani Irene Anwar, 26 tahun. Awalnya ia mencoba tes kerja di perusahaan elektronik Panasonic. Saat itu, di kampus Fakultas Teknik Universitas Indonesia ada pengumuman perusahaan tersebut yang mencari local talent di Indonesia untuk melaku-kan pelatihan di Singapura

Rencananya para s